Pertumbuhan Ekonomi

Kondisi Ekonomi Karimun

Perekonomian adalah salah satu unsur penting dalam kesejahteraan penduduk. Perekonomian yang baik dan mengalami pertumbuhan memberikan sumbangan penting bagi masyarakat, yakni akan berdampak positif pada peningkatan penghasilan masyarakat. Artinya, bila ekonomi semakin berkembang, semakin terbuka pula peluang bagi masyarakat untuk memperoleh penghasilan melalui peran sertanya dalam aktivitas ekonomi.

Meskipun demikian, perekonomian regional memiliki kaitan erat dengan perkembangan ekonomi nasional, bahkan situasi perkembangan ekonomi dunia. Perubahan atau gangguan yang cukup drastis yang terjadi di negara tertentu dapat berpengaruh bahkan pada ekonomi regional. Dalam perspektif ini, maka pendapatan masyarakat di tingkat regional dapat dipengaruhi ekonomi nasional atau negara lainnya.

Kondisi ekonomi daerah secara umum dapat ditunjukkan oleh angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), yang menggambarkan nilai tambah bruto/nilai output akhir yang dihasilkan melalui produksi barang dan jasa oleh unitunit produksi pada suatu daerah dalam periode tertentu.

Perkembangan kondisi umum ekonomi Daerah Kabupaten Karimun yang merupakan gambaran kinerja makro dari penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan menunjukkan perkembangan yang positif, meskipun pada kenyataannya perkembangan kondisi nasional tetap memberikan warna dalam dinamika perkembangan kondisi ekonomi pada daerahdaerah di seluruh Indonesia, termasuk Daerah Kabupaten Karimun.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dapat menggambarkan secara umum tingkat kesejahteraan di suatu daerah tertentu. Dilihat dari besarannya, PDRB Kabupaten Karimun mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2015, Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku (PDRB ADBH) diproyeksikan mencapai   Rp. 7.687.496.300.000,- atau meningkat sebesar 12,26 % dibanding dengan tahun 2014 sebesar Rp. 6.847.807.000.000,-. Sedangkan untuk Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan (PDRB ADHK) Kabupaten Karimun diproyeksi mencapai Rp. 2.871.017.690.000,- atau meningkat sebesar 6,87 % jika dibanding dengan PDRB ADHK tahun 2014 sebesar Rp. 2.686.366.820.000,-. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas kegiatan ekonomi di Kabupaten Karimun mengalami peningkatan baik dari nilai nominal maupun realitas produksinya. Adapun besaran PDRB Kabupaten Karimun atas dasar harga berlaku dan atas harga konstan tahun 2011 s.d. 2015dapat dilihat pada tabel 1 sebagai berikut :

Tabel 1

PDRB Kabupaten Karimun 2011-2015 (Jutaan Rupiah)

TAHUN PDRB BERLAKU PERTUMBUHAN (%) PDRB KONSTAN PERTUMBUHAN (%)
2011 4.813.661.060.000         12,27 2.185.284.610.000 7,05
2012 5.413.783.030.000         12,84 2.343.894.380.000 7,26
2013 6.109.176.490.000         12,47 2.511.210.600.000 7,14
2014*) 6.847.807.000.000         12,09 2.686.366.820.000 6,97
2015**) 7.687.496.300.000         12,26 2.871.017.690.000 6,87

*) Angka Sangat Sangat Sementara

**) Angka Proyeksi

Sumber : Badan Pusat Statistik Karimun Tahun 2015

Pertumbuhan  Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi merupakan perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang di produksi oleh penduduk setempat mengalami peningkatan sehingga kemakmuran masyarakat meningkat. Angka pertumbuhan ekonomi bisa memberikan gambaran mengenai kinerja ekonomi suatu daerah pada periode waktu tertentu. Kebijakan pemerintah daerah bisa mempengaruhi besarnya pertumbuhan ekonomi pada daerah tersebut. Hal ini berarti pertumbuhan ekonomi bisa dijadikan sebagai alat ukur keberhasilan pembangunan yang telah dicapai serta berguna sebagai bahan untuk menentukan kebijakan dan arah pembangunan dimasa yang akan datang.

Pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan diharapkan dapat memberikan dampak pada beberapa aspek terhadap pembangunan. Pertama, meningkatkan taraf hidup masyarakat, serta memperluas kesempatan kerja dan pemerataan pendapatan masyarakat. Kedua, kemakmuran yang meningkat dan pemerataan pendapatan masyarakat yang baik sehingga bisa meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. 

Dapat diketahui secara umum pertumbuhan ekonomi Kabupaten Karimun mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Pada tahun 2011 sampai tahun 2015, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Karimun berturut-turut 7,05 persen, 7,26 persen, 7,14 persen, 6,97 persen dan 6,87 persen. Pada tahun 2015, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Karimun di proyeksikan sedikit mengalami penurunan dibanding dengan tahun 2014 (dari 6,97 persen menjadi 6,87 persen).  

Tabel 3

Pertumbuhan PDRB Kabupaten Karimun Atas Dasar Harga

Konstan Menurut Lapangan Usaha Tahun 2011 – 2015

No Lapangan Usaha Persentase PDRB ADHK (%)
2011 2012 2013 2014*) 2015 **)
1 Pertanian 4.29 4.21 3.94 3.68 3.58
2 Pertambangan & Penggalian 6.40 8.19 8.12 7.85 7.26
3 Industri Pengolahan 11.31 11.24 10.37 9.99 9.49
4 Listrik, Gas, dan Air 7.23 7.21 7.05 7.08 7.12
5 Bangunan 11.55 11.30 11.32 11.36 11.30
6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 7.75 8.10 8.15 7.91 7.78
7 Pengangkutan dan Komunikasi 6.14 6.70 6.72 6.49 6.51
8 Keuangan dan Persewaan 6.87 7.08 6.16 6.18 6.24
9 Jasa-jasa 6.59 5.42 5.01 5.11 5.18
PERTUMBUHAN PDRB 7.05  7.26  7.14  6.97  6.87

*) angka sementara

**) angka sangat sangat sementara

Sumber : Badan Pusat Statistik Karimun Tahun 2015

Pertumbuhan ekonomi juga bisa dilihat untuk masing-masing sektor pembentuknya (tabel I.51).Dengan melihat masing-masing sektor, maka bisa diketahui sektor mana yang mengalami pertumbuhan meningkat dan sektor mana yang mengalami perlambatan dalam pertumbuhannya pada tahun tertentu. Hal ini bisa dijadikan sebagai bahan evaluasi sejauh mana pembangunan mempengaruhi keberhasilan kinerja untuk setiap sektor ekonomi.

Keberhasilan kinerja perekonomian Kabupaten Karimun yang diproyeksikan mencapai pertumbuhan sebesar 6,87 persen pada tahun 2015 tidak terlepas dari peningkatan pertumbuhan yang terjadi pada semua sektor penyusunnya. Dari sembilan sektor utama, sebagian besar diantaranya menunjukkan pertumbuhan yang positif, kecuali pada sektor pertanian, sektor industri, sektor perdagangan hotel dan restorant serta sektor pengangkutan dan komunikasi.

Sektor ekonomi yang mengalami peningkatan pertumbuhan ekonomi tertinggi pada tahun 2015 adalah sektor bangunan/konstruksi yaitu sebesar 11,30%. Selama tiga tahun berturut-turut pertumbuhan pada sektor ini menempati urutan tertinggi dibanding sektor lain (11,36% tahun 2014 dan 11,32% tahun 2013). Hal ini dikarenakan pemerintah daerah Kabupaten Karimun yang setiap tahun giat melakukan pembangunan fisik, baik infrastruktur maupun pembangunan gedung-gedung perkantoran.

Sektor dengan pertumbuhan ekonomi terbesar kedua pada tahun 2015 adalah sektor industri mencapai 9,49%. Meskipun jika dilihat selama tiga tahun berturut-turut, pertumbuhannya semakin menurun (mengalami perlambatan). Pada tahun 2014, pertumbuhan pada sektor industri mencapai 9,99%, pada tahun 2013 mengalami perlambatan menjadi 10,37%.

Posisi ketiga dengan pertumbuhan yang tertinggi pada tahun 2015 adalah sektor perdagangan, hotel dan restauran yaitu sebesar 7,78 persen.

Sektor pertambangan dan penggalian berada dalam urutan keempat dengan tingkat pertumbuhan sebesar 7,26 persen. Sektor pertambangan dan penggalian masih menjadi sektor yang utama penyumbang pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Karimun. Jenis pertambangan di Kabupaten Karimun adalah pertambangan non migas seperti batu granit, bauksit dan timah. Pertambangan batu granit berpusat di Kecamatan Meral dan timah berpusat di Kecamatan Kundur Barat.

Bila kita bandingkan angka-angka laju pertumbuhan tiap sektor tersebut dengan angka pertumbuhan total, maka dapat dilihat bahwa ada empat sektor yang berada di atas total laju pertumbuhan, sedangkan lima sektor lainnya berada di bawah total laju pertumbuhan. Keempat sektor yang berada di atas laju pertumbuhan total tersebut adalah sektor bangunan, sektor industri, sektor perdagangan dan sektor pertambangan dan penggalian.

Melambatnya pertumbuhan ekonomi pada sektor pertanian diduga karena subsektor perikanan sebagai sub-sektor utama penyusun sektor pertanian mengalami kenaikan produksi yang kurang signifikan selama beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut timbul akibat ancaman fenomena perubahan iklim global, overfishing, dan pencemaran, sehingga menjadikan jangkauan tangkapan menjadi semakin jauh dan efektifitasnya menurun. Pembangunan infrastruktur sektor kelautan dan perikanan dirasa masih belum optimal di tengarai akibat kurangnya alat tangkap serta sumber daya manusia dalam bidang budidaya perikanan. Sebagian besar nelayan masih menggunakan cara yang tradisional, sehingga tingkat produktivitasnya masih rendah.